Socmed Punya Kita, yang Atur Kita

3:24 pm

Pasti pernah denger kan perihal media sosial yang membuat kesehatan mental kita menjadi lebih buruk? Beberapa artikel pun menyebutkan bahwa Instagram merupakan the worst social media for mental health. Menurut Time.com, survei yang dilakukan kepada hampir dari 1500 orang memberikan hasil bahwa Instagram adalah media sosial terburuk jika dibandingkan dengan Youtube, Twitter, Facebook, dan Snapchat. Platform berbagi foto tersebut diasosiasikan dengan anxiety, depresi, hingga perasaan "khawatir tertinggal". Hal ini berbanding terbalik dengan Youtube yang memberi dampak positif karena menyediakan informasi dari sumbernya dan menurunkan tingkat depresi, anxiety, serta loneliness.

Kalo yang kurasakan pribadi sih, media sosial emang took so much time, apalagi instagram. Padahal aktivitas kita hanya melihat. Bosen dikit scroll, gatau mau ngapain jadi mending scroll aja. Pas waktu kuliah, aku merasakannya. Aku menghabiskan kurang lebih satu jam setiap pagi untuk cek media sosial. Jadi aku harus bangun sejam lebih pagi dari waktu siap-siap untuk cek-cek. Bahkan bisa merelakan waktu untuk bikin sarapan atau cuci baju. Akhirnya jajan atau bajunya taro di laundry, kan sayang ya kalo bisa hemat mah :(

Untungnya kebiasaan itu berhasil diubah setelah lulus. Karena setelah lulus, gak ada aktivitas menuntut jadi jam buka media sosial lebih tak terbatas. Tapi makin harus bisa kontrol diri. Oiya biasanya pas masa skripsian, orang akan milih untuk deactivate atau uninstall media sosial. Aku bukan termasuk yang seperti itu. Menurutku, fungsi media sosial untuk keeping up to date each other dan aku butuh itu. Apalagi aku yang cenderung extrovert--kata beberapa tes MBTI gratis di internet, aku butuh tahu lingkungan sosialku saat ini kayak apa. Yaa emang rasanya beda kalo ketemu langsung tapi lumayan mengatasi necessity tersebut.

source : http://time.com/4793331/instagram-social-media-mental-health/


Tapi satu waktu merasa kalo using social media unconsciously-too-much itu udah jadi kebiasaan dan gak sehat. Gak lagi jadi kebutuhan. Yes, it impacted to me, too. Lihat orang jalan-jalan mulu, ingin jalan-jalan. Lihat orang udah kerja, ingin cepet-cepet dapet kerja. Inginnya jadi banyak. Siriknya jadi banyak juga. Bikin dosa kan ya. Bikin gak mensyukuri apa yang udah dimiliki. Bikin gak memahami kalo setiap orang punya rezekinya masing-masing. Punya jalannya masing-masing. Punya timezonenya masing-masing Pernah coba social media detox dengan one day no socmed, lumayan ampuh untuk first or second trial. Tapi selanjutnya gak ber-impact lagi. Uninstall medsos, ku juga tak mau. Akhirnya memilih untuk filter socmed dan menentukan waktu pemakaiannya.


Aturan yang kubuat saat itu adalah
  1. Boleh membuka instagram sebelum jam 12 siang. Kenapa? Pertama, ada banyak hal yang bisa dilakukan dalam setengah hari pertamaku. Kedua, orang-orang cenderung lebih produktif di awal harinya--aku sih, gatau yang lain hehe. Ketiga, menghindari kenegatifan di awal hari, in case pas kita buka instagram nemu hal-hal yang tidak diinginkan.
  2. Tidak memulai hari dengan buka media sosial. Paling banter buka platform chat untuk lihat ada yang penting atau nggak. Kalo gak penting, ditinggal dulu. Kerjain hal yang lebih penting untuk dikerjakan terlebih dahulu. Misalnya tilawah dulu, baca buku sambil ngeteh cantik, atau beberes rumah.
  3. Mute push notification yang dirasa tidak urgent. Mulai dari group chat sampai notification like atau comment di instagram. Untuk orang yang gak suka punya notification numpuk, it really really works for me. Jadi kita baru tau ada notification ketika buka aplikasinya. Emang ketika kita ingin.
  4. Stories hanya boleh dibuka ketika ketemu wifi, tapi kalo post doang boleh. Selain jadi lebih cherish the moment, ini menghemat kuota sangat banyak. Pasang paket data pun jadi seperlunya aja.

Aturan ini coba dilakukan dari bulan November and it helps me alot. Udah jadi habit, sepertinya. Instagram jauh berkurang dan lebih ke Twitter. Lebih banyak dapat informasi dari Twitter. Tapi lihat Twitter dan media sosial yang lain pun jadi seperlunya aja. Kalo lihat lagi-lihat lagi jadi gumoh. Terus kalo menyalahi aturan-aturan tersebut jadi suka ngerasa bersalah karena ngerasa bukan saatnya. Misalnya gak sengaja Instagram kepencet pagi-pagi, langsung tutup dan self-talk "Ini bukan waktunya, Amanda". Ini sering banget kejadian.

Hasilnya? Realita dan dunia maya jadi lumayan balance. Gak ketinggalan info, tapi juga gak terkukung dengan media sosial. Jadi lebih santai juga menanggapi hal-hal di media sosial, kayak ada yang jalan-jalan ke mana, ikut kegiatan apa. Legowo gitu. Sekarang banyak melakukan kebiasaan baik yang baru bahkan. Misalnya, ke mana-mana jadi bawa buku dan memilih untuk baca buku di kereta dibanding buka medsos. So happy.

Nah, social media itu punya kita. Aku belajar kalo kita yang menentukan kontennya. Kita yang menentukan fungsinya. Kita juga yang mengatur pemakaiannya.

You Might Also Like

0 comments