Sunflower stands still by the sun.
Rain often comes to play hide and seek, but the sun chooses to hide.
So, rare to find the standing sunflower now.
You might as well hide,
like the sun.
Letting your sunflower to stand,
even if it's your favorite one.
Is sunflower still be your favorite?
Would you help me to stand?
Why is it so hard to tell the truth?
Because it's ugly.
Not everyone can accept the ugliness of something. Because they--maybe everyone--just think they deserve something better.
Also, not everyone can express their minds out. Be grateful to people that can because it's one of simplest way to let go the burdens. Also, people are afraid of consequences. Futhermore, life is about choice and you have to know it.
For example.
You never know the truth, don't you?
Because I'm too afraid of losing
Ia menari di tengah bisingnya malam.
Mengapa bisa?
Hanya berdendang sambil menggerakkan kaki.
Apa sulitnya?
Ia tersenyum dalam palsunya dunia.
Mengapa bisa?
Yang palsu kan dunia, bukan dirinya.
Tinggal menarik otot pipi kiri dan kanan, bisa kan?
Ia berkata, "kita akan baik-baik saja".
Mengapa bisa?
Karena aku mendengar kebohongan dalam hatinya.
Aku pun mendengar ada yang pecah dalam hatiku.
Maybe this time, you're the one who needs the answer. But you're being trusted to be people's source of answer. Don't you see the world have unique way to calm you out?
Maybe this time, you're the one who can't think clearly. But people around trust you to be the people that have clarity mind. Don't you see the world have unique way for you to help each other?
Haruskah aku bertanya lagi?
Dengan sedikit cerita, tanpa mendengar suaramu.
Biarkan aku bersua dengan sunyinya alunan musik kala kau ada.
Sebab aku lelah berdiam dengan ramaimu.
Sebab aku takut meledak di hadapanmu.
Haruskah aku bersembunyi lagi?
Dengan kutinggalkan sedikit kenangan.
Sebagai tanda terima kasihku.
Biarkah aku bergemuruh dengan ricuhnya isi pikiranku kala kau ada.
Sebab aku selalu berharap kau bukan hanya mimpi.
Sebab aku kan menangis ketika terbangun.
Hari ini hujan membuat gusar.
Makanan pun tidak memenuhi selera.
Tapi aku memilih minggat.
Karena aku tidak kenal kata peduli.
Aku memilih melanjutkan roda ini berputar
Tetapi kau bertingkah seperti anak kecil.
Tidak mau bermain ketika dia ada.
Lalu iri ketika mainanmu direbut.
Kemudian berlari ketika ditegur.
Berlari, menghindar, lalu menghilang.
Aku pun bersahut untuk berhenti.
Atau sambil berlari, silakan kau tengok sekitarmu.
Bukan kamu seorang diri yang sedang berjuang.
Bukan berlari yang dapat kau jadikan pilihan.
Aku pun berjuang,
maka kau harusnya begitu.
Begitu kataku,
kepada diriku.
The radar found its friends.
Just because,
we were crossing each other in the middle of the sea.
Do you know how the feeling when you meet friends after a long time--especially the same frequencies one?
You got excitement,
or joy,
or warmth,
or happiness
even grateful.
Maybe there's no suitable word to describe the feelings.
But one thing that human didn't realize.
When there's an encounter, there's a farewell.
Even the matching frequencies, didn't mean that we were meant to be always together.
I wipe the dust off the lamp.
Then I realize,
I almost forget the function of this device.
If it blinks, that means this radar already find the same frequency.
It's been a long time since the last it functioned well.
It turns out, that similarities become the reason we meet.
Finally, my ship doesn't lost by itself in the middle of the ocean.
Breathe in,
breathe out.
It took some day to me for raising up.
Sometimes I think sun is too bright.
The other times I think rain is too cold.
Like today,
and the other days.
I always try finding way
to loose this longing,
to break this silence,
to stop act like nothing,
last, to fight this defence.
Right now,
I've never assuring myself yet
"It's never been your fault"
breathe out.
It took some day to me for raising up.
Sometimes I think sun is too bright.
The other times I think rain is too cold.
Like today,
and the other days.
I always try finding way
to loose this longing,
to break this silence,
to stop act like nothing,
last, to fight this defence.
Right now,
I've never assuring myself yet
"It's never been your fault"
Sebulan lah ya kurang lebih aku (dan mungkin beberapa dari kamu) memiliki kehidupan yang berbeda dari yang sebelumnya. Beberapa orang mungkin udah bahas ini, but I want to take notes of this for my self-reflection, but also maybe some of you that read this
Di masa pandemik ini, hidup kita pasti relate dengan kehilangan. Don't you realize? Ada orang-orang di luar sana yang kehilangan pekerjaan, rencana perjalanannya, kebebasan, people they love whether because this pandemic or not, kebersamaan dengan orang lain because we have to distance physically, or even, worriness about the future. I'm pretty sure everyone experienced the impact. Konsep kehilangan ini ternyata bisa kita coba pahami berdasarkan 5 stages of grief dari Kubler Ross. Biasanya digunakan untuk orang-orang yang kehilangan orang yang disayanginya karena meninggal.
Imho, 5 stages of grief Kubler Ross ini bisa diaplikasikan di situasi kehilangan yang lain, such as current situation. Ternyata setelah riset, ada istilahnya, yaitu anticipatory grief. Kita merasa takut atas uncertainty yang akan terjadi di masa depan. Kita selalu memikirkan skenario terburuk. Untuk lebih memahami tahapan ini, I will apply in this current situations:
Denial
"This won't affect us"
Ini adalah respon pertama dan defence mechanism yang muncul dari setiap orang. Because we as human, tends to avoid changes, especially when the situation is uncontrollable. Jadi, kita cenderung gak peduli dan meremehkan. Biasanya ketika situasinya belum benar-benar bisa dipastikan.
Anger
"Oh I hate this. It's making me lose my jobs, distancing me and friends"
Kita mulai frustasi karena sadar semua rencana kita gagal, banyak hal yang gak bisa kita lkukan. Kita pun mulai ingin menyalahkan orang lain. Kalau ada bisa disalahin, pasti disalahin deh. Misalnya menyalahkan orang-orang yang kirim berita tentang pandemi ini, padahal pengirim salah apa?
It's a good thing kalau akhirnya kita memilih membatasi trigger-trigger ini atau distraksi ke kegiatan lain.
Bargaining
"Okay, I just have to do this for several weeks, then it become normal"
Kita mulai berandai-andai atau cari celah dari situasi ini. Bisa kali yaa pergi ke tempat A, asal pakai masker dan cuci tangan". Tapi yang harus kita perhatikan itu apakah worthit?
Sadness/Depression
"When will this end?'
Situasi ini biasanya kita mulai overwhelmed. Berita yang tersebar bikin kita makin stressed out. Pekerjaan yang beda banget dengan situasi dulu. Dampaknya mulai terasa di hampir aspek kehidupan kita. Tapi kita pun gatau kapan isi selesai. Gak bisa berpikir dengan baik, maunya tidur aja, tinggalin kerjaan-kerjaan. Helpless banget rasanya, tapi itu wajar. Distraksi diri dari pandemi ini memang jadi salah satu cara terbaik. Cobain hobi baru atau hal-hal baru bisa jadi solusi.
Acceptance
"Now, I have to live in this kind of life, such as work and hang out virtually"
Kita mulai beradaptadi dengan situasi ini. Mulai mengubah rencana yang gagal, bikin rutinitas baru. Well, we try live as normal as possible.
Kessler, salah ahli dalam hal grief ini, menambahkan tahapan selanjutnya, yaitu Meaning.
We're finding the light in these darkest times. Ini bagus banget menurutku, karena kita mulai untuk mengapresiasi hal-hal yang terjadi. Mencari makna dan hikmah dari setiap situasi. Kalau dalam islam, Allah memang menyarankan untuk ini, seperti pada ayatnya di surat At-Taghaabun : 11
Nah, tahapan grief ini bisa berbeda-beda urutannya pada tiap orang. Durasi tiap tahapannya pun akan berbeda karena setiap orang memiliki cara merespon masing-masing. Mungkin memahami situasi ini, tidak terlalu membantu menyelesaikan masalah. Tetapi kalau kita menyadari pada tahap mana kita berada, kita akan lebih tahu apa yang harus kita lakukan. Kita pun jadi tahu apa yang bisa kita lakukan untuk orang-orang sekitar kita. Karena semua orang mengalami setiap tahap ini kok.
Tetap semangat ya!
Well, cliche but it's the best thing that I can give to you.
Resources:
Instagram Kak Jiwi
https://hbr.org/2020/03/that-discomfort-youre-feeling-is-grief
https://www.verywellmind.com/understanding-grief-in-the-age-of-the-covid-19-pandemic-4801931
Di masa pandemik ini, hidup kita pasti relate dengan kehilangan. Don't you realize? Ada orang-orang di luar sana yang kehilangan pekerjaan, rencana perjalanannya, kebebasan, people they love whether because this pandemic or not, kebersamaan dengan orang lain because we have to distance physically, or even, worriness about the future. I'm pretty sure everyone experienced the impact. Konsep kehilangan ini ternyata bisa kita coba pahami berdasarkan 5 stages of grief dari Kubler Ross. Biasanya digunakan untuk orang-orang yang kehilangan orang yang disayanginya karena meninggal.
Imho, 5 stages of grief Kubler Ross ini bisa diaplikasikan di situasi kehilangan yang lain, such as current situation. Ternyata setelah riset, ada istilahnya, yaitu anticipatory grief. Kita merasa takut atas uncertainty yang akan terjadi di masa depan. Kita selalu memikirkan skenario terburuk. Untuk lebih memahami tahapan ini, I will apply in this current situations:
Denial
"This won't affect us"
Ini adalah respon pertama dan defence mechanism yang muncul dari setiap orang. Because we as human, tends to avoid changes, especially when the situation is uncontrollable. Jadi, kita cenderung gak peduli dan meremehkan. Biasanya ketika situasinya belum benar-benar bisa dipastikan.
Anger
"Oh I hate this. It's making me lose my jobs, distancing me and friends"
Kita mulai frustasi karena sadar semua rencana kita gagal, banyak hal yang gak bisa kita lkukan. Kita pun mulai ingin menyalahkan orang lain. Kalau ada bisa disalahin, pasti disalahin deh. Misalnya menyalahkan orang-orang yang kirim berita tentang pandemi ini, padahal pengirim salah apa?
It's a good thing kalau akhirnya kita memilih membatasi trigger-trigger ini atau distraksi ke kegiatan lain.
Bargaining
"Okay, I just have to do this for several weeks, then it become normal"
Kita mulai berandai-andai atau cari celah dari situasi ini. Bisa kali yaa pergi ke tempat A, asal pakai masker dan cuci tangan". Tapi yang harus kita perhatikan itu apakah worthit?
Sadness/Depression
"When will this end?'
Situasi ini biasanya kita mulai overwhelmed. Berita yang tersebar bikin kita makin stressed out. Pekerjaan yang beda banget dengan situasi dulu. Dampaknya mulai terasa di hampir aspek kehidupan kita. Tapi kita pun gatau kapan isi selesai. Gak bisa berpikir dengan baik, maunya tidur aja, tinggalin kerjaan-kerjaan. Helpless banget rasanya, tapi itu wajar. Distraksi diri dari pandemi ini memang jadi salah satu cara terbaik. Cobain hobi baru atau hal-hal baru bisa jadi solusi.
Acceptance
"Now, I have to live in this kind of life, such as work and hang out virtually"
Kita mulai beradaptadi dengan situasi ini. Mulai mengubah rencana yang gagal, bikin rutinitas baru. Well, we try live as normal as possible.
Kessler, salah ahli dalam hal grief ini, menambahkan tahapan selanjutnya, yaitu Meaning.
We're finding the light in these darkest times. Ini bagus banget menurutku, karena kita mulai untuk mengapresiasi hal-hal yang terjadi. Mencari makna dan hikmah dari setiap situasi. Kalau dalam islam, Allah memang menyarankan untuk ini, seperti pada ayatnya di surat At-Taghaabun : 11
"Tidak ada suatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
Nah, tahapan grief ini bisa berbeda-beda urutannya pada tiap orang. Durasi tiap tahapannya pun akan berbeda karena setiap orang memiliki cara merespon masing-masing. Mungkin memahami situasi ini, tidak terlalu membantu menyelesaikan masalah. Tetapi kalau kita menyadari pada tahap mana kita berada, kita akan lebih tahu apa yang harus kita lakukan. Kita pun jadi tahu apa yang bisa kita lakukan untuk orang-orang sekitar kita. Karena semua orang mengalami setiap tahap ini kok.
Tetap semangat ya!
Well, cliche but it's the best thing that I can give to you.
Resources:
Instagram Kak Jiwi
https://hbr.org/2020/03/that-discomfort-youre-feeling-is-grief
https://www.verywellmind.com/understanding-grief-in-the-age-of-the-covid-19-pandemic-4801931
Tulisan kali ini pasti berbeda dengan tulisan lain yang cenderung galau-galau sendu. Kali ini, mau menulis yang just wanna let my mind speak if it can. Gatau juga nadanya akan jadi apa. Entah sendu juga. Entahlah, kita lihat saja.
Sesuai judul!
Sudah sebulan di rumah aja karena anjuran pemerintah untuk menghindari pandemi. Lalu apa yang terjadi? Banyak sekali, ya. Padahal hanya sebulan.
Kali ini, for the first time in forever, seorang Amanda dengan kecenderungan extrovert 70an %, sudah hampir sebulan di rumah saja. Keluar rumah hanya untuk ambil uang dan belanja ke minimarket. Terus jadi kepikiran, ternyata kalo kita push us harder, segala yang gak mungkin, jadi mungkin.
I've used to have this principle, but only for "work" zone, at first. Yes, setelah loncat di berbagai tipe pekerjaan dan industrinya, jadi bisa menyimpulkan. Kalau kita tuh bisa jadi apa aja selama kita mau. Pada dasarnya, jika waktunya tepat, manusia bisa menjadi apa saja. Manusia pun bisa bertahan. Perkara nyaman? Itu satu dari sekian banyak faktor yang bisa dicari. Misalnya, yaa kerjaan kita, workloadnya banyak banget, tapi lingkungannya nyaman udah kayak keluarga sendiri. Akhirnya, kita bertahan. Kasus lain nih ya, gajinya gak seberapa, tapi kerjaan lumayan enak dan ideal di hati. Akhirnya, kita bertahan. Nah kan, nyaman bisa dicari
Yang paling menjadi masalah selanjutnya adalah mau atau nggak. Tinggal main keras-kerasan aja sama hidup.
Situasi saat ini nih, hidup yang lebih keras. Hidup yang challenge kita. Sesekali kita dipaksa mengalah. Awalnya, denial pasti. Namanya realita tidak sesuai keinginan. Tapi manusia punya kontrol apa dengan hidup? Manusia bisanya manage dirinya sendiri. Jadi ya tinggal live your life sebenarnya. Cari aja nyamannya hidup seperti apa untuk saat ini. Emang ada yang bilang mudah? Tidak, semua sulit. Tapi yakin ada caranya, untuk kebaikan bersama. Toh, hidup itu memang gak selamanya sesuai dengan keinginan kita.
Anggap aja nih yaa, saat ini kita dipaksa untuk hidup dengan versi paling tidak nyaman. Ada gak nyamannya? Ada dong. Hidup itu yin dan yang. Hitam dan putih. Pasti ada yang kontras. Pasti ada yang berlawanan.
Pelan-pelan akan ketemu kok nyamannya. Ritmenya akan ketemu. Walaupun rindu ritme sebelumnya. Tapi saat ini kita sedang ditantang caranya untuk bertahan. Hmm dimasukin lah ya ke dalam hunger games. Masing-masing kita mencari cara untuk berjuang.
Hidup memang tentang berjuang kan?
Dan belajar deh.
Oiya, manusia yang aku sebut di atas itu aku ya.
Gatau kalau kamu. Bilang saja kalau ternyata kita sama.
I've used to have this principle, but only for "work" zone, at first. Yes, setelah loncat di berbagai tipe pekerjaan dan industrinya, jadi bisa menyimpulkan. Kalau kita tuh bisa jadi apa aja selama kita mau. Pada dasarnya, jika waktunya tepat, manusia bisa menjadi apa saja. Manusia pun bisa bertahan. Perkara nyaman? Itu satu dari sekian banyak faktor yang bisa dicari. Misalnya, yaa kerjaan kita, workloadnya banyak banget, tapi lingkungannya nyaman udah kayak keluarga sendiri. Akhirnya, kita bertahan. Kasus lain nih ya, gajinya gak seberapa, tapi kerjaan lumayan enak dan ideal di hati. Akhirnya, kita bertahan. Nah kan, nyaman bisa dicari
Yang paling menjadi masalah selanjutnya adalah mau atau nggak. Tinggal main keras-kerasan aja sama hidup.
Situasi saat ini nih, hidup yang lebih keras. Hidup yang challenge kita. Sesekali kita dipaksa mengalah. Awalnya, denial pasti. Namanya realita tidak sesuai keinginan. Tapi manusia punya kontrol apa dengan hidup? Manusia bisanya manage dirinya sendiri. Jadi ya tinggal live your life sebenarnya. Cari aja nyamannya hidup seperti apa untuk saat ini. Emang ada yang bilang mudah? Tidak, semua sulit. Tapi yakin ada caranya, untuk kebaikan bersama. Toh, hidup itu memang gak selamanya sesuai dengan keinginan kita.
Anggap aja nih yaa, saat ini kita dipaksa untuk hidup dengan versi paling tidak nyaman. Ada gak nyamannya? Ada dong. Hidup itu yin dan yang. Hitam dan putih. Pasti ada yang kontras. Pasti ada yang berlawanan.
Pelan-pelan akan ketemu kok nyamannya. Ritmenya akan ketemu. Walaupun rindu ritme sebelumnya. Tapi saat ini kita sedang ditantang caranya untuk bertahan. Hmm dimasukin lah ya ke dalam hunger games. Masing-masing kita mencari cara untuk berjuang.
Hidup memang tentang berjuang kan?
Dan belajar deh.
Oiya, manusia yang aku sebut di atas itu aku ya.
Gatau kalau kamu. Bilang saja kalau ternyata kita sama.
there are stars
you haven't seen
and loves
you haven't loved
there's light
you haven't felt
and sunrises
yet to dawn
there are dreams
you haven't dreamt
and days
you haven't lived
and nights
you won't forget
and flowers
yet to grow
and there is more
that you haven't known yet
these days might as well
you never get through days as it is now
Maybe this time,
you're the one who needs the answer. But you're being trusted to be people's source of answers. Don't you see the world have unique way to calm you out?
Maybe this time,
you're the one who can't think clearly. But people around trust you as the person that have clarity mind. Don't you see the world have unique way for you to help each other?
Haruskah aku bertanya lagi?
Dengan sedikit cerita, tanpa mendengar suaramu.
Biarkan aku bersua dengan sunyinya alunan musik kala kau ada.
Sebab aku lelah berdiam dengan ramaimu.
Sebab aku takut meledak di hadapanmu.
Haruskah aku bersembunyi lagi?
Dengan kutinggalkan sedikit kenangan.
Sebagai tanda terima kasihku.
Biarkah aku bergemuruh dengan ricuhnya isi pikiranku kala kau ada.
Sebab aku selalu berharap kau bukan hanya mimpi.
Sebab aku kan menangis ketika terbangun.
06 April 2019
20.41
It has been being tens months and I have already disappeared from this blog. Whereas this is used to be my remedy or medium for me able struggling day by day.
Hmm, it's not a good beginning for long-gone-me start to write. I'm trying not to be care. Not because I hate people, but I'm trying to put myself first--well, advice from many people.
Where have you been?
Life.
Trying to be able to stand day-by-day. Most of them, interacting with kids. Major excuses for leaving writing here. The minor one is challenging myself to write for people. Nonetheless, I still need for myself. I'm still doing rarely, not here.
However, life is confusing.
I'm saying it every day.
I'm saying it every day.
But nowadays, I said it countlessly like I'm an addictive one. Maybe, I'm finding affirmation to make me believe that sentence is totally wrong.
I pulled myself from some kind of lives. I said to myself that I need time. Life is quite tiring and terrifying and untrustworthy. If I could choose my own option, I wanted to hide somewhere that no one could find, until I was really ready to face the world.
Kinda terrified and easily-trust-but-easily-broke and indecisive and so on. I know the view of the world before is the result of my mind. I know. I need to fix my perspective but it's too... Hm, I don't find the exact words.
But if I choose to see the world, it's because I believe you. I believe people that accompany me.
Staying through my side.
Assuring that I'm going to be okay.
Thank you for being part of my learning journey.
Aku mulai terbiasa untuk tidak bertemu.
Tidak lagi berskenario tak sengaja berpapasan.
Tidak juga menyengajakan langkah bersama.
Aku mulai terbiasa tidak mencarimu dalam hariku.
Sebegitukah kuatnya diriku?
Tidak juga.
Seyakin itukah diriku?
Sama sekali tidak.
Aku masih berdoa akan adanya pertemuan hari itu.
Aku masih berdoa adanya percakapan tercipta, walau hanya sapaan belaka.
Aku masih berdoa perihal kabar baik hari itu.
Tapi aku memang harus membiasakan, jika memang jalan hidup kita tak ada temunya.
Jikalau bertemu, aku pun harus bersiap kala jalan ini harus bercabang lagi.
Malam ini tiba-tiba merenungi berbagai hal yang terjadi dalam beberapa minggu ini.
Di awal bulan ini, kesibukan di sekolah dipenuhi dengan parents meeting. Termasuk untuk diriku sebagai guru baru. Deg-degan banget sih karena ini adalah parents meeting pertama. Terasa seperti proses serah terima dimana orang tua di rumah menyerahkan anaknya kepadaku untuk menjadi tanggung jawabku selama di sekolah. WA! Tegang banget sih.
Di parents meeting ini, aku menghighlight beberapa hal. Sebelumnya, cerita sedikit tentang aktivitasku saat ini. Saat ini, aku adalah special education teacher, jadi orang tua yang aku temui adalah orang tua yang memiliki anak dengan special needs. Special needs itu bisa beragam, mulai dari learning disability, perkembangan kognitif, hingga masalah emosi. Intinya, anak-anak tersebut adalah mereka yang membutuhkan support individual. Belum tentu masalah akademis, namun bisa juga behavior. Nah menurutku, orang tua dengan anak-anak ini adalah orang tua yang kuat.
Aku gak kebayang bagaimana mereka akhirnya bisa dealing with themselves and the world atas kondisi anak mereka. Ya, ketika seorang anak itu dititipkan oleh Tuhan, semuanya pasti ingin anaknya baik dalam segala aspek. Sungguh gak kebayang apa yang ada di pikiran orang tua tersebut ketika menyadari anaknya memiliki keterbatasan. Fase denial pasti terjadi. Ketika sampai fase tersebut, wajar sekali kalo mereka bingung. Orang tua bisa saja memaksa anak mereka untuk "bisa", namun realitanya berkata lain. Sampai akhirnya orang tua menerima kondisi anak mereka, berbagai konflik dialaminya: blaming themselves, dealing with socials, feeling lonely, and so on. Mungkin saja pada umumnya, semua orang tua mengalami fase tersebut ketika anaknya tidak mencapai ekspektasi mereka. Tapi buatku, orang tua dengan special needs sangat hebat karena mereka sadar mereka harus memberikan extra treatment pada anaknya.
Ketika orang tua menitipkan anaknya kepada program inklusi ini, menurutku orang tua sudah menerima kondisi anaknya. Mereka mengusahakan berbagai cara agar anaknya bisa survive normally dan ini adalah salah satunya. Pengalamanku, orang tua ini sangat percaya dengan guru-gurunya. Mereka membebaskan program kepada guru. Kemungkinan sih karena mereka sudah mencoba dan butuh bantuan dari orang lain. Jujur aja aku agak awkward dengan hal ini. Orang tua anak-anak tersebut kan tetap mereka. Merekalah yang lebih tahu bagaimana memperlakukan anak-anaknya. Baiklah. Akhirnya kucoba ambil kepercayaan tersebut sebagai motivasi membantu anak-anaknya.
Oiya, salah satu pengalaman unik yang aku temui kemarin adalah salah satu orang tua berterima kasih kepada guru-guru anaknya karena anaknya berubah signifikan. Beliau sampai berkata, "Aku tuh seneng banget karena akhirnya doaku dikabulkan. Jadi, makasih ya Miss". Beliau mengatakannya sambil berkaca-kaca. Aku sampai panik mau ambil tisu kan. But, aku kan saat itu baru tiga minggu bertemu anaknya? Jadi ku cuma mengiyakan sambil bingung tapi feeling moved. Lah emang aku udah ngapain selama ini? Kok bisa-bisanya percaya sama orang asing ini? Langsung berterima kasih pula? Kalo anak-anaknya diapa-apain gimana?
Ya, namanya juga orang tua. Pasti akan mengusahakan yang terbaik untuk anaknya walaupun terseok-seok. Aku pun sebenarnya sedang berusaha agar tidak terseok-seok. Kan aku jadi orang tua--functionally--selama kurang lebih 6 jam di sekolah. Doakan semoga ku bisa berhasil ya!
Aku gak kebayang bagaimana mereka akhirnya bisa dealing with themselves and the world atas kondisi anak mereka. Ya, ketika seorang anak itu dititipkan oleh Tuhan, semuanya pasti ingin anaknya baik dalam segala aspek. Sungguh gak kebayang apa yang ada di pikiran orang tua tersebut ketika menyadari anaknya memiliki keterbatasan. Fase denial pasti terjadi. Ketika sampai fase tersebut, wajar sekali kalo mereka bingung. Orang tua bisa saja memaksa anak mereka untuk "bisa", namun realitanya berkata lain. Sampai akhirnya orang tua menerima kondisi anak mereka, berbagai konflik dialaminya: blaming themselves, dealing with socials, feeling lonely, and so on. Mungkin saja pada umumnya, semua orang tua mengalami fase tersebut ketika anaknya tidak mencapai ekspektasi mereka. Tapi buatku, orang tua dengan special needs sangat hebat karena mereka sadar mereka harus memberikan extra treatment pada anaknya.
Ketika orang tua menitipkan anaknya kepada program inklusi ini, menurutku orang tua sudah menerima kondisi anaknya. Mereka mengusahakan berbagai cara agar anaknya bisa survive normally dan ini adalah salah satunya. Pengalamanku, orang tua ini sangat percaya dengan guru-gurunya. Mereka membebaskan program kepada guru. Kemungkinan sih karena mereka sudah mencoba dan butuh bantuan dari orang lain. Jujur aja aku agak awkward dengan hal ini. Orang tua anak-anak tersebut kan tetap mereka. Merekalah yang lebih tahu bagaimana memperlakukan anak-anaknya. Baiklah. Akhirnya kucoba ambil kepercayaan tersebut sebagai motivasi membantu anak-anaknya.
Oiya, salah satu pengalaman unik yang aku temui kemarin adalah salah satu orang tua berterima kasih kepada guru-guru anaknya karena anaknya berubah signifikan. Beliau sampai berkata, "Aku tuh seneng banget karena akhirnya doaku dikabulkan. Jadi, makasih ya Miss". Beliau mengatakannya sambil berkaca-kaca. Aku sampai panik mau ambil tisu kan. But, aku kan saat itu baru tiga minggu bertemu anaknya? Jadi ku cuma mengiyakan sambil bingung tapi feeling moved. Lah emang aku udah ngapain selama ini? Kok bisa-bisanya percaya sama orang asing ini? Langsung berterima kasih pula? Kalo anak-anaknya diapa-apain gimana?
Ya, namanya juga orang tua. Pasti akan mengusahakan yang terbaik untuk anaknya walaupun terseok-seok. Aku pun sebenarnya sedang berusaha agar tidak terseok-seok. Kan aku jadi orang tua--functionally--selama kurang lebih 6 jam di sekolah. Doakan semoga ku bisa berhasil ya!
![]() |
| Take it from Panitia FIM's drone. Thank you! |
Email Forum Indonesia Muda atau FIM itu hanya jeda beberapa hari dari email tawaran pekerjaan. Respon pertama, sangat bersyukur karena kedua email ini sangat ditunggu. Respon berikutnya, tentu saja tidak bisa memilih mana yang lebih penting. Khawatir sekali tidak bisa ikut FIM karena anak baru ini tidak dapat izin. Oleh karena itu, pilihannya hanya berdoa semoga yang terbaik dimudahkan jalannya dan jika tidak baik, semoga diganti dengan yang lebih baik.
Ternyata Allah baik banget memberikan kesempatan padaku untuk memaknai kebaikan.
5 Juli memang satu hari penting dalam hidupku. Tepatnya tahun ini merupakan satu turning point untuk fase yang katanya "berat" dalam hidup (re: quarter life). Tepat hari itu juga jadi hari pertama pelatihan wilayah 2 Forum Indonesia Muda 20 di Bogor. Hari itu harus siap menemui fakta "ketemu dengan banyak orang baru"--akhir-akhir ini kalo ketemu super banyak orang, cukup energy draining. Hari itu siap ninggalin orang rumah dari pagi dan baru dapat ucapan ulang tahun pas udah naik ojek mau ke stasiun. Hari itu pun siap menemui fakta kalo hari itu gak akan ada yang ucapin ulang tahun langsung karena orang baru semua jadi yaaa gak pada tau kalo hari itu aku ulang tahun. Iyap, aku hanya datang dengan rasa penasaran.
Ada apa sih di tempat ini sampai yang daftar beribu-ribu orang?
Ada apa sih di tempat ini sampai orang-orang dari forum ini sangat aktif berkontribusi untuk kebaikan?
Ada apa sih di tempat ini sampai banyak alumninya yang menyarankan masuk sini?
Ternyata, semua terjawab ketika melewati pelatihan ini secara full. Flow yang dibawa acara ini walaupun terbatas waktu, namun tepat langkah-langkahnya. Mulai dari mengenal tentang leadership, mengenal leadership dalam diri, mencari masalah dari lingkungan dan menurunkannya ke dalam tujuan yang SMART--iya ini rasanya kayak kegiatan di kampus di mana proposal direvisi berkali-kali hanya karena tujuan tidak smart, networking, sampai mengenal peran kelompok. Metodenya juga beragam dari seminar, talkshow, sampai turun ke jalan. Ini acaranya memang mengikatkan dengan Madam (re: salah satu rangkaian ospek di fakultas). Kalo di taxonomy bloom, dari level mengetahui sampai level sintesis, semua dijalankan. Belum lagi, adanya fasil itu mengingatkan dengan posisi KKP. Duh jadi kangen.
Oiya sebelum itu, aku juga pernah berdoa untuk berada di situasi ideal. Aku pernah berada di situasi di mana aku gak takut dengan dunia sekitar, aku dijaga oleh lingkungan dalam segala aspek terutama spiritual, dan aku diberi kesempatan untuk melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya. Beberapa waktu lalu pun berpikir kalo situasi ideal itu tidak mungkin dicapai lagi. Dunia itu terlalu realistis dan kita yang harus menyesuaikan diri. Namun beberapa waktu kemudian, aku meralat dan berprinsip bahwa kita bisa menciptakan lingkungan ideal tersebut jika kita mau. Pada Pelatwil 2 ini, Allah mengabulkan doaku untuk menunjukkan situasi yang ideal itu. Ternyata situasi ideal itu terjadi lagi di kehidupanku. Lingkungan di mana orang-orangnya bersama berlari mengejar dunia untuk tujuan utama berlari mengejar kehidupan akhirat yang baik.
Lingkungan ini begitu mudah untuk menyebarkan hype positif. Tidak hanya peserta, namun juga panitia dan alumni. Semua orang punya tujuan kebaikannya masing-masing, tetapi tidak egois menyatakan bahwa kebaikan itu berasal darinya. Kolaborasi menjadi kunci dari kebaikan tersebut. Semua orang membuka kesempatan dan mengajak berjuang bersama. Gak peduli asalmu dari mana. Semua begitu down-to-earth untuk sejuta aktivitas bermanfaat yang telah diciptakan. Aktivitas yang dilakukannya pun merupakan aktivitas besar yang buatku berpikir, "MasyaAllah, hidupnya begitu baik. Semoga aku pun diberi kesempatan untuk menjadi seperti itu". Aktivitas itu gak hanya satu-dua, tapi banyak. Mereka pun bisa menjalankan hidup dengan baik-baik saja tanpa ada kesulitan yang telihat. Kalau boleh jujur, sembari pulang aku menatap kosong ke langit sampai menitikkan air mata karena doa yang terkabul serta takut tidak bisa merasakan situasi ideal ini lagi. But life must go on. Dari sini, aku belajar bahwa kita tidak akan pernah dipersulit untuk melakukan sesuatu kebaikan itu. Yang ada hanyalah diberi tantangan untuk menaikkan level kebaikan tersebut. Sungguh ku salut dengan mereka semua.
Semoga kita semua tetap diberi kesempatan untuk berbuat baik dan bermanfaat untuk sekitar ya. Jangan lupa bahagia (dan menebar kebahagiaan itu)!
Salam,
Amanda Nurshadrina
Regional Depok - FIM 20 Pelatwil 2 Bogor
Nb.1: Sangat dibuka kesempatan untuk kalian semua yang mau sharing, siapa tahu bisa kerjasama di lain waktu
Nb.2 : Empat hari ketemu banyak orang baru, tapi tidak pusing sama sekali. Eh migrain dikit deh pas main BAJ hehe tapi gak signifikan berarti hype positif menyembuhkan.
Nb.3 : Ada yang ingat ulang tahun gue dan ngucapin di hari itu dan esoknya. Huhu super terharu

















