The radar found its friends.
Just because,
we were crossing each other in the middle of the sea.
Do you know how the feeling when you meet friends after a long time--especially the same frequencies one?
You got excitement,
or joy,
or warmth,
or happiness
even grateful.
Maybe there's no suitable word to describe the feelings.
But one thing that human didn't realize.
When there's an encounter, there's a farewell.
Even the matching frequencies, didn't mean that we were meant to be always together.
I wipe the dust off the lamp.
Then I realize,
I almost forget the function of this device.
If it blinks, that means this radar already find the same frequency.
It's been a long time since the last it functioned well.
It turns out, that similarities become the reason we meet.
Finally, my ship doesn't lost by itself in the middle of the ocean.
Breathe in,
breathe out.
It took some day to me for raising up.
Sometimes I think sun is too bright.
The other times I think rain is too cold.
Like today,
and the other days.
I always try finding way
to loose this longing,
to break this silence,
to stop act like nothing,
last, to fight this defence.
Right now,
I've never assuring myself yet
"It's never been your fault"
breathe out.
It took some day to me for raising up.
Sometimes I think sun is too bright.
The other times I think rain is too cold.
Like today,
and the other days.
I always try finding way
to loose this longing,
to break this silence,
to stop act like nothing,
last, to fight this defence.
Right now,
I've never assuring myself yet
"It's never been your fault"
Sebulan lah ya kurang lebih aku (dan mungkin beberapa dari kamu) memiliki kehidupan yang berbeda dari yang sebelumnya. Beberapa orang mungkin udah bahas ini, but I want to take notes of this for my self-reflection, but also maybe some of you that read this
Di masa pandemik ini, hidup kita pasti relate dengan kehilangan. Don't you realize? Ada orang-orang di luar sana yang kehilangan pekerjaan, rencana perjalanannya, kebebasan, people they love whether because this pandemic or not, kebersamaan dengan orang lain because we have to distance physically, or even, worriness about the future. I'm pretty sure everyone experienced the impact. Konsep kehilangan ini ternyata bisa kita coba pahami berdasarkan 5 stages of grief dari Kubler Ross. Biasanya digunakan untuk orang-orang yang kehilangan orang yang disayanginya karena meninggal.
Imho, 5 stages of grief Kubler Ross ini bisa diaplikasikan di situasi kehilangan yang lain, such as current situation. Ternyata setelah riset, ada istilahnya, yaitu anticipatory grief. Kita merasa takut atas uncertainty yang akan terjadi di masa depan. Kita selalu memikirkan skenario terburuk. Untuk lebih memahami tahapan ini, I will apply in this current situations:
Denial
"This won't affect us"
Ini adalah respon pertama dan defence mechanism yang muncul dari setiap orang. Because we as human, tends to avoid changes, especially when the situation is uncontrollable. Jadi, kita cenderung gak peduli dan meremehkan. Biasanya ketika situasinya belum benar-benar bisa dipastikan.
Anger
"Oh I hate this. It's making me lose my jobs, distancing me and friends"
Kita mulai frustasi karena sadar semua rencana kita gagal, banyak hal yang gak bisa kita lkukan. Kita pun mulai ingin menyalahkan orang lain. Kalau ada bisa disalahin, pasti disalahin deh. Misalnya menyalahkan orang-orang yang kirim berita tentang pandemi ini, padahal pengirim salah apa?
It's a good thing kalau akhirnya kita memilih membatasi trigger-trigger ini atau distraksi ke kegiatan lain.
Bargaining
"Okay, I just have to do this for several weeks, then it become normal"
Kita mulai berandai-andai atau cari celah dari situasi ini. Bisa kali yaa pergi ke tempat A, asal pakai masker dan cuci tangan". Tapi yang harus kita perhatikan itu apakah worthit?
Sadness/Depression
"When will this end?'
Situasi ini biasanya kita mulai overwhelmed. Berita yang tersebar bikin kita makin stressed out. Pekerjaan yang beda banget dengan situasi dulu. Dampaknya mulai terasa di hampir aspek kehidupan kita. Tapi kita pun gatau kapan isi selesai. Gak bisa berpikir dengan baik, maunya tidur aja, tinggalin kerjaan-kerjaan. Helpless banget rasanya, tapi itu wajar. Distraksi diri dari pandemi ini memang jadi salah satu cara terbaik. Cobain hobi baru atau hal-hal baru bisa jadi solusi.
Acceptance
"Now, I have to live in this kind of life, such as work and hang out virtually"
Kita mulai beradaptadi dengan situasi ini. Mulai mengubah rencana yang gagal, bikin rutinitas baru. Well, we try live as normal as possible.
Kessler, salah ahli dalam hal grief ini, menambahkan tahapan selanjutnya, yaitu Meaning.
We're finding the light in these darkest times. Ini bagus banget menurutku, karena kita mulai untuk mengapresiasi hal-hal yang terjadi. Mencari makna dan hikmah dari setiap situasi. Kalau dalam islam, Allah memang menyarankan untuk ini, seperti pada ayatnya di surat At-Taghaabun : 11
Nah, tahapan grief ini bisa berbeda-beda urutannya pada tiap orang. Durasi tiap tahapannya pun akan berbeda karena setiap orang memiliki cara merespon masing-masing. Mungkin memahami situasi ini, tidak terlalu membantu menyelesaikan masalah. Tetapi kalau kita menyadari pada tahap mana kita berada, kita akan lebih tahu apa yang harus kita lakukan. Kita pun jadi tahu apa yang bisa kita lakukan untuk orang-orang sekitar kita. Karena semua orang mengalami setiap tahap ini kok.
Tetap semangat ya!
Well, cliche but it's the best thing that I can give to you.
Resources:
Instagram Kak Jiwi
https://hbr.org/2020/03/that-discomfort-youre-feeling-is-grief
https://www.verywellmind.com/understanding-grief-in-the-age-of-the-covid-19-pandemic-4801931
Di masa pandemik ini, hidup kita pasti relate dengan kehilangan. Don't you realize? Ada orang-orang di luar sana yang kehilangan pekerjaan, rencana perjalanannya, kebebasan, people they love whether because this pandemic or not, kebersamaan dengan orang lain because we have to distance physically, or even, worriness about the future. I'm pretty sure everyone experienced the impact. Konsep kehilangan ini ternyata bisa kita coba pahami berdasarkan 5 stages of grief dari Kubler Ross. Biasanya digunakan untuk orang-orang yang kehilangan orang yang disayanginya karena meninggal.
Imho, 5 stages of grief Kubler Ross ini bisa diaplikasikan di situasi kehilangan yang lain, such as current situation. Ternyata setelah riset, ada istilahnya, yaitu anticipatory grief. Kita merasa takut atas uncertainty yang akan terjadi di masa depan. Kita selalu memikirkan skenario terburuk. Untuk lebih memahami tahapan ini, I will apply in this current situations:
Denial
"This won't affect us"
Ini adalah respon pertama dan defence mechanism yang muncul dari setiap orang. Because we as human, tends to avoid changes, especially when the situation is uncontrollable. Jadi, kita cenderung gak peduli dan meremehkan. Biasanya ketika situasinya belum benar-benar bisa dipastikan.
Anger
"Oh I hate this. It's making me lose my jobs, distancing me and friends"
Kita mulai frustasi karena sadar semua rencana kita gagal, banyak hal yang gak bisa kita lkukan. Kita pun mulai ingin menyalahkan orang lain. Kalau ada bisa disalahin, pasti disalahin deh. Misalnya menyalahkan orang-orang yang kirim berita tentang pandemi ini, padahal pengirim salah apa?
It's a good thing kalau akhirnya kita memilih membatasi trigger-trigger ini atau distraksi ke kegiatan lain.
Bargaining
"Okay, I just have to do this for several weeks, then it become normal"
Kita mulai berandai-andai atau cari celah dari situasi ini. Bisa kali yaa pergi ke tempat A, asal pakai masker dan cuci tangan". Tapi yang harus kita perhatikan itu apakah worthit?
Sadness/Depression
"When will this end?'
Situasi ini biasanya kita mulai overwhelmed. Berita yang tersebar bikin kita makin stressed out. Pekerjaan yang beda banget dengan situasi dulu. Dampaknya mulai terasa di hampir aspek kehidupan kita. Tapi kita pun gatau kapan isi selesai. Gak bisa berpikir dengan baik, maunya tidur aja, tinggalin kerjaan-kerjaan. Helpless banget rasanya, tapi itu wajar. Distraksi diri dari pandemi ini memang jadi salah satu cara terbaik. Cobain hobi baru atau hal-hal baru bisa jadi solusi.
Acceptance
"Now, I have to live in this kind of life, such as work and hang out virtually"
Kita mulai beradaptadi dengan situasi ini. Mulai mengubah rencana yang gagal, bikin rutinitas baru. Well, we try live as normal as possible.
Kessler, salah ahli dalam hal grief ini, menambahkan tahapan selanjutnya, yaitu Meaning.
We're finding the light in these darkest times. Ini bagus banget menurutku, karena kita mulai untuk mengapresiasi hal-hal yang terjadi. Mencari makna dan hikmah dari setiap situasi. Kalau dalam islam, Allah memang menyarankan untuk ini, seperti pada ayatnya di surat At-Taghaabun : 11
"Tidak ada suatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
Nah, tahapan grief ini bisa berbeda-beda urutannya pada tiap orang. Durasi tiap tahapannya pun akan berbeda karena setiap orang memiliki cara merespon masing-masing. Mungkin memahami situasi ini, tidak terlalu membantu menyelesaikan masalah. Tetapi kalau kita menyadari pada tahap mana kita berada, kita akan lebih tahu apa yang harus kita lakukan. Kita pun jadi tahu apa yang bisa kita lakukan untuk orang-orang sekitar kita. Karena semua orang mengalami setiap tahap ini kok.
Tetap semangat ya!
Well, cliche but it's the best thing that I can give to you.
Resources:
Instagram Kak Jiwi
https://hbr.org/2020/03/that-discomfort-youre-feeling-is-grief
https://www.verywellmind.com/understanding-grief-in-the-age-of-the-covid-19-pandemic-4801931
Tulisan kali ini pasti berbeda dengan tulisan lain yang cenderung galau-galau sendu. Kali ini, mau menulis yang just wanna let my mind speak if it can. Gatau juga nadanya akan jadi apa. Entah sendu juga. Entahlah, kita lihat saja.
Sesuai judul!
Sudah sebulan di rumah aja karena anjuran pemerintah untuk menghindari pandemi. Lalu apa yang terjadi? Banyak sekali, ya. Padahal hanya sebulan.
Kali ini, for the first time in forever, seorang Amanda dengan kecenderungan extrovert 70an %, sudah hampir sebulan di rumah saja. Keluar rumah hanya untuk ambil uang dan belanja ke minimarket. Terus jadi kepikiran, ternyata kalo kita push us harder, segala yang gak mungkin, jadi mungkin.
I've used to have this principle, but only for "work" zone, at first. Yes, setelah loncat di berbagai tipe pekerjaan dan industrinya, jadi bisa menyimpulkan. Kalau kita tuh bisa jadi apa aja selama kita mau. Pada dasarnya, jika waktunya tepat, manusia bisa menjadi apa saja. Manusia pun bisa bertahan. Perkara nyaman? Itu satu dari sekian banyak faktor yang bisa dicari. Misalnya, yaa kerjaan kita, workloadnya banyak banget, tapi lingkungannya nyaman udah kayak keluarga sendiri. Akhirnya, kita bertahan. Kasus lain nih ya, gajinya gak seberapa, tapi kerjaan lumayan enak dan ideal di hati. Akhirnya, kita bertahan. Nah kan, nyaman bisa dicari
Yang paling menjadi masalah selanjutnya adalah mau atau nggak. Tinggal main keras-kerasan aja sama hidup.
Situasi saat ini nih, hidup yang lebih keras. Hidup yang challenge kita. Sesekali kita dipaksa mengalah. Awalnya, denial pasti. Namanya realita tidak sesuai keinginan. Tapi manusia punya kontrol apa dengan hidup? Manusia bisanya manage dirinya sendiri. Jadi ya tinggal live your life sebenarnya. Cari aja nyamannya hidup seperti apa untuk saat ini. Emang ada yang bilang mudah? Tidak, semua sulit. Tapi yakin ada caranya, untuk kebaikan bersama. Toh, hidup itu memang gak selamanya sesuai dengan keinginan kita.
Anggap aja nih yaa, saat ini kita dipaksa untuk hidup dengan versi paling tidak nyaman. Ada gak nyamannya? Ada dong. Hidup itu yin dan yang. Hitam dan putih. Pasti ada yang kontras. Pasti ada yang berlawanan.
Pelan-pelan akan ketemu kok nyamannya. Ritmenya akan ketemu. Walaupun rindu ritme sebelumnya. Tapi saat ini kita sedang ditantang caranya untuk bertahan. Hmm dimasukin lah ya ke dalam hunger games. Masing-masing kita mencari cara untuk berjuang.
Hidup memang tentang berjuang kan?
Dan belajar deh.
Oiya, manusia yang aku sebut di atas itu aku ya.
Gatau kalau kamu. Bilang saja kalau ternyata kita sama.
I've used to have this principle, but only for "work" zone, at first. Yes, setelah loncat di berbagai tipe pekerjaan dan industrinya, jadi bisa menyimpulkan. Kalau kita tuh bisa jadi apa aja selama kita mau. Pada dasarnya, jika waktunya tepat, manusia bisa menjadi apa saja. Manusia pun bisa bertahan. Perkara nyaman? Itu satu dari sekian banyak faktor yang bisa dicari. Misalnya, yaa kerjaan kita, workloadnya banyak banget, tapi lingkungannya nyaman udah kayak keluarga sendiri. Akhirnya, kita bertahan. Kasus lain nih ya, gajinya gak seberapa, tapi kerjaan lumayan enak dan ideal di hati. Akhirnya, kita bertahan. Nah kan, nyaman bisa dicari
Yang paling menjadi masalah selanjutnya adalah mau atau nggak. Tinggal main keras-kerasan aja sama hidup.
Situasi saat ini nih, hidup yang lebih keras. Hidup yang challenge kita. Sesekali kita dipaksa mengalah. Awalnya, denial pasti. Namanya realita tidak sesuai keinginan. Tapi manusia punya kontrol apa dengan hidup? Manusia bisanya manage dirinya sendiri. Jadi ya tinggal live your life sebenarnya. Cari aja nyamannya hidup seperti apa untuk saat ini. Emang ada yang bilang mudah? Tidak, semua sulit. Tapi yakin ada caranya, untuk kebaikan bersama. Toh, hidup itu memang gak selamanya sesuai dengan keinginan kita.
Anggap aja nih yaa, saat ini kita dipaksa untuk hidup dengan versi paling tidak nyaman. Ada gak nyamannya? Ada dong. Hidup itu yin dan yang. Hitam dan putih. Pasti ada yang kontras. Pasti ada yang berlawanan.
Pelan-pelan akan ketemu kok nyamannya. Ritmenya akan ketemu. Walaupun rindu ritme sebelumnya. Tapi saat ini kita sedang ditantang caranya untuk bertahan. Hmm dimasukin lah ya ke dalam hunger games. Masing-masing kita mencari cara untuk berjuang.
Hidup memang tentang berjuang kan?
Dan belajar deh.
Oiya, manusia yang aku sebut di atas itu aku ya.
Gatau kalau kamu. Bilang saja kalau ternyata kita sama.
there are stars
you haven't seen
and loves
you haven't loved
there's light
you haven't felt
and sunrises
yet to dawn
there are dreams
you haven't dreamt
and days
you haven't lived
and nights
you won't forget
and flowers
yet to grow
and there is more
that you haven't known yet
these days might as well
you never get through days as it is now





